Di dalam bahasa Jepang,
bunyi vokal disebut “Boin”. Seperti yang
telah dilihat pada daftar silabel, dalam bahasa Jepang terdapat huruf あ、い、う、え、お.
Huruf-huruf tersebut apabila ditulis dengan huruf latin akan menjadi a, i, u, e, o. Kelima macam huruf itu
masing-masing merupakan sebuah silabel yang terbentuk dari sebuah fonem berupa
vokal. Asosiasi Fonetik Internasional
yang disebut International Phonetic
Association, yang dalam bahasa Jepangnya disebut Kokusei Onseigaku kai menentukan huruf-huruf sebagai lambang bunyi
bahasa yang diapit oleh tanda kurung [ ]. Lambang bunyi bahasa ini disebut International Phonetic Alphabet. Dengan
demikian di dalam bahasa Jepang terdapat lima macam bunyi vokal sesuai dengan
huruf-huruf yang ditulis di atas yakni vokal-vokal [a], [i], [ɯ], [e], dan [o].
Vokal merupakan bunyi bahasa yang dapat
diucapkan menjadi bunyi panjang, tetapi tidak berarti bahwa semua bunyi yang
dapat diucapkan secara panjang adalah vokal.Karena di antara konsonan juga ada
yang dapat diucapkan secara panjang seperti bunyi konsonan frikatif [s].Jadi
dapat disimpulkan bahwa vokal (boin) dapat diartikan sebagai bunyi yang
dihasilkan dari arus udara pernapasan yang dikeluarkan dari paru-paru melewati
tenggorokan lalu mengalir ke luar melalui rongga mulut. Arus udara itu selama
proses menghasilkan bunyi-bunyi suara keluar secara bebas dan sama sekali tidak
mengalami hambatan, rintangan, gangguan, atau halangan dari alat ucap manusia.
Vokal termasuk yuuseion (bunyi yang
bersuara) yaitu bunyi yang dihasilkan disertai getaran pita suara.
Vokal dapat dibagi-bagi berdasarkan
posisi atau letak lidah, besar atau kecilnya membuka mulut pada waktu
mengucapkannya, dan sebagainya (Iwabuchi, 1989 : 262). Ishida Toshiko menyebutkan bahwa pembentukan
bunyi-bunyi vokal ditentukan oleh empat faktor seperti berikut, (Ishida, 1991 :
58)
a.
Bentuk bibir
b.
Pembukaan rahang
c.
Gerakan-gerakan lidah
d.
Peranan rongga hidung
Berdasarkan hal di atas, berikut
merupakan cara pengucapan bunyi vokal di dalam bahasa Jepang.
ü あ[a] : Vokal [a] diucapkan dengan cara
membuka mulut cukup besar (lebih besar daripada waktu mengucapkan vokal-vokal
lainnya), bentuk bibir tidak bulat, melainkan dalam keadaan rata atau datar (heishin boin). Pada waktu mengucapkan
vokal [a] lidah bagian belakang dinaikkan (okujita
boin) sehingga posisinya lebih tinggi daripada lidah bagian tengah dan
lidah bagian depan. Ujung lidah menempel pada (sekitar) gusi bagian belakang
gigi bawah.
ü い[i] : Vokal diucapkan dengan cara membuka
mulut sedikit. Keadaan bibir pada waktu mengucapkan vokal [i] agak merentang ke
samping (kiri dan kanan) sehingga keadaannya menjadi rata atau datar agak lebar
(heishin boin). Dengan demikian,
bentuk bibir pada waktu mengucapkan vokal [i] tidak bulat dan lidah bagian
depan naik hampir mendekati langit-langit keras (maejita boin) dan ujung lidah turun hingga menempel pada gigi bawah
bagian belakang.
ü う[ɯ] : Vokal [ɯ] diucapkan dengan caramembuka mulut sedikit, sama besarnya pada waktu
mengucapkan vokal [i] (heishin boin). Tetapi
pada waktu mengucapkan vokal [ɯ] bibir dalam keadaan normal tidak
direntangkan ke samping kiri dan kanan, tidak seperti pada waktu mengucapkan
vokal [i]. Di dalam bahasa Indonesia vokal [u] diucapkan dengan kedua bibir
agak maju ke depan dan sedikit membulat (Depdikbud, 1988 : 46). Tetapi vokal [ɯ] dalam bahasa Jepang tidak diucapkan
dengan cara memajukan bibir ke depan dan tidak membulatkannya. Pada waktu
mengucapkan vokal [ɯ] lidah bagian belakang dinaikkan ke atas ke arah
langit-langit lunak (okujita boin). Tetapi
dalam kondisi tertentu yaitu apabila vokal ini mengikuti beberapa konsonan,
seperti [s], [ʦ], dan [z] seperti pada silabel su, tsu, dan zu, bagian lidah yang naik
adalah lidah bagian tengah (nakajita boin).
Oleh sebab itu, dalam keadaan seperti ini lambang bunyi うdalam bahasa Jepang menjadi [ɯ].
ü え[e] : Vokal [e] diucapkan dengan cara membuka
mulut cukup besar, lebih kecil daripada waktu mengucapkan vokal [a] tetapi
lebih besar dari waktu mengucapkan vokal [i] atau [ɯ]. Vokal [e] termasuk heishin boin yang dibentuk dengan cara
sedikit merentangkan bibir ke samping kiri dan kanan, hampir sama waktu
mengucapkan vokal [i]. Pada waktu mengucapkan vokal [e] lidah bagian depan
agak dinaikkan (maejita boin).
ü お[o] : Vokal [o] diucapkan dengan cara membuka
mulut sama besarnya pada waktu mengucapkan vokal [e]. Vokal [o] termasuk enshin boin yaitu vokal yang diucapkan
dengan cara membentuk bibir agak bulat. Vokal [o] diucapkan dengan cara
menaikkan lidah bagian belakang (okujita
boin) ke arah langit-langit lunak.